Minggu, 28 Agustus 2016
Wisata ke Candi Ceto, Karang Anyar, Sragen
Lebaran gue di tahun 1437 H alias tahun 2016, kami se-keluarga besar Mariyono, wisata ke salah satu tempat keramatnya orang kejawen, “Candi Ceto”. Candi Ceto ini masih aktif digunakan untuk tempat beribadahnya orang Hindu dan orang jawa kejawen. Perjalanan dari tempat tinggal di desa Jatirejo ke desa Ceto kira-kira ngabisin waktu sejam. Medan menuju Candi Ceto berkelok-kelok, jalannya sempit dan menanjak pula. Sampai-sampai musti ada sekitar 4-5 orang sekaligus yang menjaga satu jalur belokan tajam menanjak untuk membantu dorong mobil- mobil yang datang.
( ngeri banget gue denger kabar pas empat hari setelah gue pergi ke sana, ada kecelakaan. Baca di http://jateng.tribunnews.com/2016/07/12/tak-kuasai-medan-jalan-menuju-candi-Ceto-sebuah-mobil-masuk-jurang-dua-orang-meninggal ).
Candi Ceto berada pada ketinggian 1.400 mdpl di lereng Gunung Lawu, Candi Ceto terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Mobil grand livina tahun 2012 dan xenia tahun 2008 yang keluarga gue tumpangi nggak sanggup buat menanjak sampai ke gerbang masuk candi, sehingga perjalanan 100 meter lagi, di lanjut dengan jalan kaki, kecuali nenek gue yang udah berumur 60 tahunan naik ojek dengan ongkosnya Rp15.000,00. Harga tiket masuk ke Candi Ceto Rp7.000,00 per orang.
Setalah melewati godaan dari para pedagang sate, indomi, popmi, dan jagung bakar, kami harus tetap tangguh menaiki buki- bukit berkelok dan beberapa anak tangga, sehingga sampai di Puncak Candi Ceto. Betapa tehiburnya kami disambut oleh hijauan rimbun pepohonan yang menari kompak dengan angin semilir yang aduhai sejuknya. Langitnya begitu ramah menyapa kami. Senyum matahari di siang bolong ini ditutupi kabut tebal mengelus-elus wajah kami. Puji Syukur kehadirat Allah yang Maha Pencipta, pemandangan alam yang aduhai indahnya.
Entah arsitek dari lulusan mana itu ya yang membuat bangunan candi begitu artistik. Desain patung-patung, stupa undakan, arca dan trap-trapan seakan menceritakan sejarahnya di masa lalu. Apa bisa terbayangkah seberapa hebat orang-orang zaman dulu yang membangun candi ini? Berapa banyak batu yang diangkut dengan tenaga manusia? Padahal zaman dulu belum ada truk pengangkut. Berapa banyak korban yang jatuh sakit dan meninggal dunia karena kecelakaan kerja? Padahal zaman dulu belum mengenal yang namanya asuransi. Entah siapa yang tau telah habis berapa darah yang mengalir untuk pembangunan candi ceto ini.
Oleh karena itu sudah selaknya kita sebagai penerima warisan ini menjaga dan merawat peninggalan bersejarah, Candi Ceto. Kita wajib melestarikan barang-barang yang ada pada setiap peninggalan bersejarah itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar